The Biggest "Sport for All" Event

Street Soccer

Tim Indonesia dalam “Homeless World Cup 2011″ yang diwakilkan oleh tim futsal dari Rumah Cemara berhasil menyandang tiga gelar sekaligus dalam ajang berskala internasional tersebut. Kami juga masih nggak nyangka bisa bawa pulang tiga trofi sekaligus. “Ini kan pengalaman pertama kami, jadi ya masih belum nyangka aja,” kata seorang personel, Tri Eklas Tesa Sampurno, ketika ditemui di sekretariat Rumah Cemara, Bandung, Selasa (6/9). Tiga gelar itu di antaranya, Tim Pendatang Baru Terbaik (The Best New Comer Team), peringkat keenam, dan Pemain Terbaik (The Most Valuable Player) yang jatuh pada kapten Timnas Zeradjat Ginandjar Koesmayadi. Selama tujuh hari, Tri dan ketujuh personel lainnya telah berjuang maksimal membawa nama Indonesia dalam kompetisi street soccer untuk kaum termarjinalkan tersebut.

Kompetisi yang diselenggarakan di Paris, Prancis ini berlangsung pada 21-28 Agustus. Dalam kompetisi tersebut, Tri dan kawan-kawan berlaga di lapangan sebanyak 12 kali dengan melawan sejumlah negara yang berbeda setiap harinya, seperti Rumania, Belanda, Jerman, Rusia, Nigeria, Cile,Brasil,Skotlandia, dan Irlandia. Menurut Tri, dari sekian banyak pertandingan yang paling berkesan adalah ketika timnya berhadapan dengan tim dari Irlandia. “Pada babak pertama skor kami tertinggal jauh, yaitu 5-0. Entah apa yang terjadi, pada babak kedua, kondisinya langsung berbalik. Dalam waktu 7 menit, kami bisa mengungguli tim Irlandia dengan skor 8-7,” tuturnya. Hingga saat ini, Tri mengaku masih takjub dengan performa teman-temannya tersebut, “kami seperti kesetanan. Kami bahkan gak lihat skor, hajar-hajar saja. Eh tiba-tiba permainan selesai, semua penonton langsung ‘standing applause’,” lanjutnya.

Dia mengatakan, yang membanggakannya dalam 12 kali pertandingan tersebut tim Indonesia sama sekali tidak mendapatkan kartu alias tidak melakukan pelanggaran sedikit pun. “Kami main bersih. Sama sekali nggak dapat kartu karena pelanggaran. Itu sangat membanggakan,” kata Tri. Meski demikian, bukan berarti Tri dan rekan setimnya tidak menemui kendala selama mengikuti kompetisi ini. Sebagai tim baru dalam Homeless World Cup, tim Indonesia sempat dipandang sebelah mata, baik oleh wasit maupun para pemain dari sejumlah negara.

“Wah..awalnya wasit dan pemain itu ‘underestimate’ sama kami. Mungkin dipikiran mereka sepakbola kita masih belum bagus, jadi kami dipandang sebelah mata, ya gak diperhiktungkanlah” ceritanya. Namun hal itu justru semakin memompa semangat mereka, “kami malah makin semangat. Kami mau buktikan bahwa Indonesia gak begitu. Kami patut diperhitungkan,”katanya. Terbukti, lewat permainan mereka yang bersih dan sportif, anggapan-anggapan tersebut terhapuskan.

Mereka berhasil menjadi pendatang baru yang patut diperhitungkan. Bahkan, seorang wasit sempat menyampaikan kekagumannya secara langsung pada Tri, “katanya, ‘saya tidak menyangka, awalnya saya meragukan kalian. Tapi ternyata kalian luar biasa’, kurang lebih begitu intinya,” kata Tri.

“Akhirnya kami dapat gelar dan trofi sebagai ‘The Best New Comer Team’. Penilaiannya bukan hanya saat di lapangan saja, tapi juga ketika di luar lapangan,” katanya. “Homeless World Cup” merupakan kompetisi street soccer yang diikuti tim dari berbagai negara. Pesertanya merupakan kaum- kaum termarjinalkan, seperti penderita HIV/AIDS, korban napza, atau kalangan miskin kota. Tim Indonesia diwakili oleh tim dari Rumah Cemara yang membawa isu tentang HIV/AIDS, dari delapan pemain yang dikirim empat di antaranya merupakan ODHA (orang dengan HIV/ AIDS)

Sumber : imzers.org/forum

Images : flickr.com/photos/ryusha, masteragen.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: