The Biggest "Sport for All" Event

Sebagai salah satu kota budaya di Indonesia, Kota Bandung memiliki potensi budaya tradisional yang kini masih terus dilestarikan. Salah satunya adalah gulat tradisional bernama Benjang, yang sudah ada sejak abad ke 18 atau sekitar 300 tahun yang lalu. Menurut Andang Segara Ketua Harian Benjang Jawa Barat, bahwa olahraga Benjang ini tercipta akibat keterbatasan masyarakat Bandung, yang tidak diperbolehkan melakukan aktivitas adu kekuatan fisik pada jaman penjajahan Belanda. Adanya kebijakan tersebut memaksa sejumlah pemuda, untuk bermain dogongan atau saling dorong badan, bergelut dan saling membanting satu sama lainnya  hingga terjatuh. Nama Benjang sendiri diambil dari dua singkatan kata yaitu Silibeunyi dan Genjang. Silibeunyi berarti saling tarik menarik, sedangkan Genjang mencoba menjatuhkan lawan. Dari dua kata itulah maka tercipta nama Benjang, yang berarti kegiatan tarik menarik badan untuk menjatuhkan lawannya.

Olahraga gulat tradisional Benjang tampak sudah menjadi budaya bagi masyarakat bandung. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, tidak melihat jenis kelamin apakah laki-laki atau perempuan, olahraga gulat ini sangat diminati oleh masyarakat. Salah satunya Aap bocah berusia 9 tahun, yang berpartisipasi dalam perlombaan Benjang pada FORNAS 2011 di Parkir Timur Senayan,6 Oktober 2011.  Aap telah menggeluti dunia Benjang sejak umur 5 tahun. Aap tidak takut tubuh kecilnya terhempas di atas matras akibat bantingan lawannya. Bagi bocah kelas 3 SD ini, kegemarannya dengan olahraga Benjang menghilangkan rasa sakitnya ketika tubuhnya ditarik, dilempar hingga dibanting dengan cukup keras. Bahkan akibat kerja kerasnya itulah, Aap pernah menjuarai festival gulat tradisional Benjang tingkat Kabupaten Bandung, dalam kelas Kadet atau anak-anak. Kini, Aap bercita-cita ingin menjadi seorang Benjang yang tangguh, seperti ayahnya yg selama ini berprofesi sebagai guru Benjang.

Seiring dengan perkembangan jaman, maka olahraga gulat tradisional Benjang dipengaruhi sebagian nilai-nilai modernisasi. Salah satunya, teknik bergulat yang berkolaborasi dengan gulat free style. Jika dahulu sistem penilaian Benjang hanyalah ditentukan dengan jatuhnya lawan akibat bantingan dalam posisi terlentang, maka sekarang sudah berubah berdasarkan peraturan gulat nasional. Jika berhasil membanting lawan dalam keadaan terjatuh, maka mendapatkan nilai tiga. Apabila sebelum membanting sempat mengangkat tubuh lawannya, maka memperoleh nilai lima.

Walaupun terjadi perkembangan modernisasi, namun nilai-nilai tradisional gulat tradisional Benjang asal Bandung ini masih terus dilestarikan. Misalkan saat perayaan panen padi, maka gulat Benjang diadakan di atas lumpur. Atau jika ada syukuran salah satu warga, maka diadakan pagelaran Benjang secara tradisional, diiringi alunan musik khas Jawa Barat dengan menggunakan perangkat gendang, kecrekkan, suling, dan lain sebagainya. Bagi masyarakat Kota Bandung, Benjang adalah warisan nenek moyang yg sampai saat ini terus dilestarikan, dan menjadi kebanggaan mulai tingkat nasional hingga Internasional. (Don)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: