The Biggest "Sport for All" Event

Sebagai salah satu kota budaya di Indonesia, Kota Bandung memiliki potensi budaya tradisional yang kini masih terus dilestarikan. Salah satunya adalah gulat tradisional bernama Benjang, yang sudah ada sejak abad ke 18 atau sekitar 300 tahun yang lalu. Menurut Andang Segara Ketua Harian Benjang Jawa Barat, bahwa olahraga Benjang ini tercipta akibat keterbatasan masyarakat Bandung, yang tidak diperbolehkan melakukan aktivitas adu kekuatan fisik pada jaman penjajahan Belanda. Adanya kebijakan tersebut memaksa sejumlah pemuda, untuk bermain dogongan atau saling dorong badan, bergelut dan saling membanting satu sama lainnya  hingga terjatuh. Nama Benjang sendiri diambil dari dua singkatan kata yaitu Silibeunyi dan Genjang. Silibeunyi berarti saling tarik menarik, sedangkan Genjang mencoba menjatuhkan lawan. Dari dua kata itulah maka tercipta nama Benjang, yang berarti kegiatan tarik menarik badan untuk menjatuhkan lawannya.

Olahraga gulat tradisional Benjang tampak sudah menjadi budaya bagi masyarakat bandung. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, tidak melihat jenis kelamin apakah laki-laki atau perempuan, olahraga gulat ini sangat diminati oleh masyarakat. Salah satunya Aap bocah berusia 9 tahun, yang berpartisipasi dalam perlombaan Benjang pada FORNAS 2011 di Parkir Timur Senayan,6 Oktober 2011.  Aap telah menggeluti dunia Benjang sejak umur 5 tahun. Aap tidak takut tubuh kecilnya terhempas di atas matras akibat bantingan lawannya. Bagi bocah kelas 3 SD ini, kegemarannya dengan olahraga Benjang menghilangkan rasa sakitnya ketika tubuhnya ditarik, dilempar hingga dibanting dengan cukup keras. Bahkan akibat kerja kerasnya itulah, Aap pernah menjuarai festival gulat tradisional Benjang tingkat Kabupaten Bandung, dalam kelas Kadet atau anak-anak. Kini, Aap bercita-cita ingin menjadi seorang Benjang yang tangguh, seperti ayahnya yg selama ini berprofesi sebagai guru Benjang.

Seiring dengan perkembangan jaman, maka olahraga gulat tradisional Benjang dipengaruhi sebagian nilai-nilai modernisasi. Salah satunya, teknik bergulat yang berkolaborasi dengan gulat free style. Jika dahulu sistem penilaian Benjang hanyalah ditentukan dengan jatuhnya lawan akibat bantingan dalam posisi terlentang, maka sekarang sudah berubah berdasarkan peraturan gulat nasional. Jika berhasil membanting lawan dalam keadaan terjatuh, maka mendapatkan nilai tiga. Apabila sebelum membanting sempat mengangkat tubuh lawannya, maka memperoleh nilai lima.

Walaupun terjadi perkembangan modernisasi, namun nilai-nilai tradisional gulat tradisional Benjang asal Bandung ini masih terus dilestarikan. Misalkan saat perayaan panen padi, maka gulat Benjang diadakan di atas lumpur. Atau jika ada syukuran salah satu warga, maka diadakan pagelaran Benjang secara tradisional, diiringi alunan musik khas Jawa Barat dengan menggunakan perangkat gendang, kecrekkan, suling, dan lain sebagainya. Bagi masyarakat Kota Bandung, Benjang adalah warisan nenek moyang yg sampai saat ini terus dilestarikan, dan menjadi kebanggaan mulai tingkat nasional hingga Internasional. (Don)

Layaknya Perempuan pada umumnya, Tarti dan Rahma atau lebih dikenal sebagai  Emong, tampak  lemah lembut. Namun, setelah memegang “Sumpitan”, Senjata tiup khas Kalimantan Timur, terlihat jelas keahlian dan kemampuannya yang luar biasa. Hampir setiap Saha, sejenis jarum terbuat dari Kayu Ulin, selalu menancap di sasaran berjarak 20 meter.

Sumpitan sendiri merupakan Senjata khas Kalimantan Timur, berupa kayu Ulin sepanjang rata-rata 2 meter, dengan menggunakan jarum sebagai peluru. Dibutuhkan Nafas cukup kuat untuk meluncurkan saha sehingga tepat sasaran. Seiring berjaalnnya waktu,  Sumpitan kerap dilombakan di Kalimantan Timur, termasuk berlaga dalam Festval Olahraga Rekreasi Nasional 2011 kali ini, meskipun masih dalam kategori perlombaan ekshibisi.

Rahma atau Emong mengaku sejak kecil belajar Sumpitan. ” Saya sering menggunakan keahlian saya untuk berburu rusa di Kalimantan Timur”, tutur rahma. Sementara sebagai salah satu cabang olahraga, Rahma pernah menjuarai berbagai lomba Sumpitan di Kalimantan Timur. Tidak heran Sumpitan tidak pernah lepas dalam sejarah hidupnya, apalagi kemampuan menggunakan Sumpitan bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, selain sebatas kegemaran dan keahlian,  Untuk itu sumpitan perlu dilestarikan dan dikembangkan di masa mendatang.

Jadi, hati-hati, jangan mencoba untuk menggoda atau menganggu, kalau tidak ingin terkena tiupan Sumpitan… (Ery)

Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng, Kamis (6/10) secara resmi membuka Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) yang digelar di Parkir Timur Senayan Gelora Bung Karno, Jakarta. Festival yang mengambil tema “Sport for All” ini merupakan yang pertamakalinya digelar dan bertujuan mengembangkan dan menggiatkan olahraga rekreasi di masyarakat. Menpora Andi Mallarangeng dalam sambutannya menyambut gembira penyelenggaraan Festival Olahraga Rekreasi Nasional ini yang sejalan dengan visi pemerintah mewujudkan “Indonesia Bugar 2020″. Andi menambahkan pengembangan olahraga rekreasi tentunya akan bersinergi bersama-sama dengan dua pilar keolahragaan lainnya, yakni olahraga prestasi dan olahraga pendidikan, untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan bugar sekaligus memunculkan bibit-bibit atlit olahraga prestasi. “Dari penyuka olahraga sepeda gembira misalnya nanti bisa muncul para pembalap sepeda nasional handal atau dari penggemar jalan sehat mucul atlit nasional pelari cepat,” ujar Andi.

 Upacara pembukaan FORNAS juga dihadiri oleh Ketua Umum Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI), Haryono Isman, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Rita Subowo, dan Ketua DPRD DKI Jakarta, Ferial Sofyan.

Dalam sambutannya Ketua KONI, Rita Subowo, mengatakan FORNAS dapat menjadi wadah bagi penggemar olahraga rekreasi untuk bisa berlaga di pentas dunia. Sementara Ketua Umum FORMI, Haryono Isman, menyatakan olahraga rekreasi dapat membangun kebersamaan dan solidaritas antar warga yang diharapkan dapat meredam berbagai potensi konflik akibat perbedaan di dalam masyarakat.Pembukaan FORNAS sendiri berlangsung meriah diramaikan dengan aneka pertunjukkan kesenian tradisional nusantara dan pementasan berbagai olahraga tradisional.

 FORNAS dapat diikuti oleh masyarakat umum dan akan berlangsung sampai hari Minggu, 9 Oktober 2011. Ajang kompetisi ini memperlombakan 19 cabang olah raga rekreasi dan 6 eksibisi antara lain aneka olah raga tradisional seperti pencak silat dan gulat tradisional, senam kesehatan, olahraga moderen anak muda seperti skateboard, dan permainan tradisional seperti egrang, terompah panjang dan gebuk bantal. (end)

Street Soccer

Tim Indonesia dalam “Homeless World Cup 2011″ yang diwakilkan oleh tim futsal dari Rumah Cemara berhasil menyandang tiga gelar sekaligus dalam ajang berskala internasional tersebut. Kami juga masih nggak nyangka bisa bawa pulang tiga trofi sekaligus. “Ini kan pengalaman pertama kami, jadi ya masih belum nyangka aja,” kata seorang personel, Tri Eklas Tesa Sampurno, ketika ditemui di sekretariat Rumah Cemara, Bandung, Selasa (6/9). Tiga gelar itu di antaranya, Tim Pendatang Baru Terbaik (The Best New Comer Team), peringkat keenam, dan Pemain Terbaik (The Most Valuable Player) yang jatuh pada kapten Timnas Zeradjat Ginandjar Koesmayadi. Selama tujuh hari, Tri dan ketujuh personel lainnya telah berjuang maksimal membawa nama Indonesia dalam kompetisi street soccer untuk kaum termarjinalkan tersebut.

Kompetisi yang diselenggarakan di Paris, Prancis ini berlangsung pada 21-28 Agustus. Dalam kompetisi tersebut, Tri dan kawan-kawan berlaga di lapangan sebanyak 12 kali dengan melawan sejumlah negara yang berbeda setiap harinya, seperti Rumania, Belanda, Jerman, Rusia, Nigeria, Cile,Brasil,Skotlandia, dan Irlandia. Menurut Tri, dari sekian banyak pertandingan yang paling berkesan adalah ketika timnya berhadapan dengan tim dari Irlandia. “Pada babak pertama skor kami tertinggal jauh, yaitu 5-0. Entah apa yang terjadi, pada babak kedua, kondisinya langsung berbalik. Dalam waktu 7 menit, kami bisa mengungguli tim Irlandia dengan skor 8-7,” tuturnya. Hingga saat ini, Tri mengaku masih takjub dengan performa teman-temannya tersebut, “kami seperti kesetanan. Kami bahkan gak lihat skor, hajar-hajar saja. Eh tiba-tiba permainan selesai, semua penonton langsung ‘standing applause’,” lanjutnya.

Dia mengatakan, yang membanggakannya dalam 12 kali pertandingan tersebut tim Indonesia sama sekali tidak mendapatkan kartu alias tidak melakukan pelanggaran sedikit pun. “Kami main bersih. Sama sekali nggak dapat kartu karena pelanggaran. Itu sangat membanggakan,” kata Tri. Meski demikian, bukan berarti Tri dan rekan setimnya tidak menemui kendala selama mengikuti kompetisi ini. Sebagai tim baru dalam Homeless World Cup, tim Indonesia sempat dipandang sebelah mata, baik oleh wasit maupun para pemain dari sejumlah negara.

“Wah..awalnya wasit dan pemain itu ‘underestimate’ sama kami. Mungkin dipikiran mereka sepakbola kita masih belum bagus, jadi kami dipandang sebelah mata, ya gak diperhiktungkanlah” ceritanya. Namun hal itu justru semakin memompa semangat mereka, “kami malah makin semangat. Kami mau buktikan bahwa Indonesia gak begitu. Kami patut diperhitungkan,”katanya. Terbukti, lewat permainan mereka yang bersih dan sportif, anggapan-anggapan tersebut terhapuskan.

Mereka berhasil menjadi pendatang baru yang patut diperhitungkan. Bahkan, seorang wasit sempat menyampaikan kekagumannya secara langsung pada Tri, “katanya, ‘saya tidak menyangka, awalnya saya meragukan kalian. Tapi ternyata kalian luar biasa’, kurang lebih begitu intinya,” kata Tri.

“Akhirnya kami dapat gelar dan trofi sebagai ‘The Best New Comer Team’. Penilaiannya bukan hanya saat di lapangan saja, tapi juga ketika di luar lapangan,” katanya. “Homeless World Cup” merupakan kompetisi street soccer yang diikuti tim dari berbagai negara. Pesertanya merupakan kaum- kaum termarjinalkan, seperti penderita HIV/AIDS, korban napza, atau kalangan miskin kota. Tim Indonesia diwakili oleh tim dari Rumah Cemara yang membawa isu tentang HIV/AIDS, dari delapan pemain yang dikirim empat di antaranya merupakan ODHA (orang dengan HIV/ AIDS)

Sumber : imzers.org/forum

Images : flickr.com/photos/ryusha, masteragen.com

Pertama dilahirkan pertengahan tahun 1940-1950-an ketika peselancar dari California Amerika ingin mencari sesuatu untuk dikendarai ketika air laut tidak berombak dengan papan seluncur mereka. Papan pertama dibuat dengan papan yang diberi ban dari roller skate. Lalu, tahun 1970-an, Frank Nasworthty membuat ban skateboard dengan bahan polyurethane atau biasa dipanggil cadillac. Dia berharap agar orang yang gemuk bisa membeli papan skate dan memakainya.Dengan adanya peluncuran ban baru tersebut ditahun 1970-an, membuat popularitas skateboarding berkembang pesat lagi. Banyak perusahaan mulai memproduksi truck (gandar roda) dengan mendesain khusus untuk para skater. Pengusaha pabrik mulai mengadakan percobaan dengan menggabung bahan eksotik dengan metal , seperti fiberglas dan aluminium.

Para Skateboarders menerima keuntungan dari papan mereka yang diperbaiki dan mereka mulai menciptakan trik baru. Mereka mulai meluncur di tembok vertikal kolam renang yang dibiarkan kosong di masa kekeringan California 1976. Ini asal mula trend vert di dunia skateboarding. Frank Nasworthy membuat ban skateboard dengan bahan polyurethane atau biasa dipanggil Cadillac dengan tujuan agar orang yang gemuk bisa membeli papan skate dan memakainya. Pengaruh freestyle street skating masih menjadi trend selama pertengahan 80an, skateboard di tahun ini berkembang dengan cepat akan tetapi terhambat dengan akomodasi street skating. Tahun 1990an sampai sekarang digenerasi sekarang skateboarding didominasi dengan street skating. Bentuk kontemporer skateboard didapat dari freestyle papan 1980s dengan bentuk dan lebar relatif sempit yang sangat simetris. Bentuk ini sudah menjadi standar dipertengahan 90an.

Di Indonesia sendiri perkembangan olahraga skateboard ini masih tergolong sangat baru yakni sekitar tahun 80an sudah ada beberapa orang Indonesia yang menekuni olahraga ini. Peminatnya semakin banyak sejalan dengan waktu meskipun sebenarnya tidak pernah diadakan kejuaraan skateboard di Indonesia. Para skater mendapatkan informasi tentang skateboard dengan cara menonton Video atau membaca majalah skateboard dari luar negri. Cara mendapatkannya pun tergolong tidak gampang, cara termudah biasanya salah seorang teman memiliki kakak atau orang tua yang bekerja diluar negri dan menitipkan oleh-oleh berupa video ataupun majalah skateboard bahkan mungkin ada yang dibelikan skateboard lengkap yang masih tergolong sulit pula dibeli di Indonesia.

Pertengahan tahun 90an semakin banyak pemuda yang bermain skateboard karena sudah ada skateshop yang menjual peralatan skateboard secara lengkap meskipun tidak dengan legal license. Pada tahun 1996 Mr. Craig Huddleston membuka sebuah toko yang menjual Surf, Skate and Street Apparel dengan nama City Surf. Toko tersebut menjual segala pernak pernik peralatan untuk surfing maupun skateboarding. Dengan perkembangan pemikiran yang semakin kritis atas potensi skateboard di Indonesia, akhirnya Mr.Craig selaku pemilik City Surf memiliki inisiatif untuk menggelar kejuaraan skateboard pada tahun 1998 di Jakarta. Peserta yang hadirpun tidak terlalu banyak, karena memang masih tergolong olahraga minoritas dan awam. Kelas yang dipertandingkan adalah street course dan mini ramp. Melihat animo peserta yang sangat antusias dalam mengikuti kejuaraan ini aKhirnya tahun 1999 dan 2000 City Surf menggelar kembali kejuaraan skateboard dengan nama City Surf Open Skateboard Competition di Pulo Mas Jakarta Timur.

City Surf terus menggelar berbagai acara kejuaran pada tiap tahunnya sampai dengan tahun 2003 dimana City Surf menyelenggarakannya di 3 kota besar yaitu Jakarta, Bandung dan Surabaya. Ditahun 2004 lalu, City Surf open juga diadakan di 3 kota besar tersebut dengan format pertandingan seri yang berbeda. Yaitu Simultanous Series. Maksudnya adalah seri yang sudah berlangsung selama tahun 2003 akan dilanjutkan ke seri-seri pada tahun selanjutnya.

Sumber : tnol.co.id, hasbyskateboarding.blogspot.com

Images : fornasindonesia.com

Perjalanan ini adalah perjalan pertama dalam sejarah, melintasi pulau jawa dari ujung barat sampai ujung timur menggunakan Inline Skate. Pejalanan yang menghabiskan waktu lebih dari satu bulan meninggalkan sejuta pengalaman dan memori indah tentang indonesia. SACHA STEVENSON 29th warga negara CANADA ini mungkin sudah tidak asing bagi orang indonesia, penampilannya sudah sering menghiasi layar kaca, mulai dari WARA WIRI bersama komeng dan adul, BELAJAR INDONESIA program traveling di trans tv, OPERA VAN JAVA, dan banyak acara televisi lainnya.

Ide gila, sarap..tapi luar biasa dan amazing, menjadi orang pertama dalam sejarah di dunia melintasi pulau jawa dari merak-kuta. Perjalanan ini adalah cita-citanya sejak lama, berbekal uang tabungan secukupnya dan kemauan maka ini semua bisa berhasil. Tim kecil, di karenakan budget dan kendaraan yg kecil maka tim hanya terdiri dari 3 orang, Sacha dan 2 orang kru, yg harus bisa melakukan berbagai hal, dan juga “Greeny” suzuki katana 92 yang selalu setia menemani perjalanan ini. Misi perjalanan ini awalnya adalah go green, bahwa dengan sepatu roda kita pun bisa sampai bali, dan melakukan penghijauan dengan menanan pohon secara simbolik di setiap kota besar, yang di harapkan bisa menginspirasi orang lain. Sacha sibuk dengan sepatu rodanya, seorang kru mengemudikan mobil yang berisi semua perlengkapan di belakangnya, bertugas menjaga dari kendaraan yang melaju dari arah belakang, dan seorang kru mendokumentasikan perjalanan dengan berbekan sebuah kamera foto CANON 550D.

Bukan cuma menanam pohon tapi pejalanan ini juga menyisakan sejuta pengalaman indah “GREAT AMAZING ADVENTURE”. setiap hari dengan menempuh jarak 60km atau rata rata 10km/jam,memakan waktu lebih dari satu bulan untuk tiba di finish line. Setiap hari berada di kota dan tempat yang berbeda, menginap dimanapun tempat yang bisa disinggahi, makan dimanapun tempat yang di lewati, melewati tempat tempat indah di pulau jawa, bertemu dengan orang orang yang memiliki kultur dan karater berbeda setiap hari.

Perjalanan dimulai dari merak, tanggal 3 mei tepatnya, sampai di jakarta dan harus beristirahaat karena “greeny” harus masuk tempat perawatan dan pergantian kru. Start dengan seorang kru pengganti,melewati jalur selatan jawa memakan waktu 2 minggu sampai dengan yogya, disolo seorang kru di tukar karena diperlukan 2 orang yang bisa mengemudi. memasuki jawa timur dengan suasanan dan kultur yang berbeda, alamnya yang indah. Ditolak dari sebuah hotel dingawi karen pemilik hotel yang fanatik, mampir ke gunung berapi terindah di dunia bromo, indahnya bintang di hutan jawa timur semua di abadikan dalam kamera.

Setelah perjalanan ini selesai bukan berati berhenti sampai di sini, next adalah perjalanan sabang-merauke yang di perkirakan menghabiskan waktu 6 bulan. dengan misi mencerdaskan anak anak dengan buku. Membagikan buku di setiap sekolah yang di temuai, buku anak anak bergambar yang menceritakan tentang pentingnya menjaga lingkungan. MOHON DUKUNGANNYA

 

Sumber : adhimsa.com/entertainment, vivanews.com

Images : buleonblades.weebly.com, adhimsa.com

Parkour

Parkour biasa disingkat PK atau l’art du déplacement (Seni gerak) adalah aktivitas yang bertujuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia. Itu berarti untuk menolong seseorang melintasi rintangan, yang bisa berupa apa saja di sekitar lingkungan dari cabang-cabang pohon dan batu-batuan hingga pegangan tangan dan tembok beton yang bisa dilatih di desa dan di kota. atlet-atlet Parkour dikenal sebagai “Traceur” atau “Traceuse” untuk perempuan. Ditemukan oleh David Belle di Perancis, “Parkour” bertujuan untuk melatih efisiensi gerakan untuk membentuk badan dan pikiran seseorang untuk dapat menghadapi rintangan-rintangan dalam kondisi bahaya.
Parkour mempunyai arti bergerak atau berpindah tempat dari point A ke point B seefisien dan secepat mungkin yang menggunakan prinsip dari Parkour dengan mengedepankan keindahan bergerak sekaligus diimbangi oleh kemampuan dari tubuh manusia itu sendiri. Sebenarnya Parkour sudah ada sejak dulu sebelum manusia mengenal kata “Parkour” itu sendiri. Tapi Parkour dideskripsikan dan dikenalkan ke seluruh dunia oleh seorang pria berkebangsaan Perancis yang dikenal dengan nama David Belle. Dialah yang telah memperkenalkan olahraga ini ke seluruh dunia yang awalnya hanya berkembang di Perancis. Sehingga akhirnya berkembang ke seluruh daratan Eropa dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia.
Terinspirasi dari ayahnya, Raymond Belle seorang tentara Perancis yang akhirnya bergabung dengan sapeurs-pompiers (pemadam kebakaran militer). Lahir di tengah keluarga pemadam kebakaran membuat David terinspirasi dengan cerita-cerita tentang kepahlawanan. Saat berumur 16 tahun, David memutuskan untuk meninggalkan sekolah untuk mencari kecintaannya akan kebebasan, aksi, dan untuk mengembangkan kekuatan dan ketangkasan yang dimilikinya agar berguna dalam kehidupannya, seperti yang selalu dinasehatkan oleh ayahnya. Raymond memperkenalkan pada anaknya tentang sebuah latihan halang rintang dan metode natural yang akhirnya dikenal dengan nama Parkour. Sejak saat itu ,setiap David sepulang sekolah ia mulai memainkan skenario sendiri bagaimana dia bisa meloloskan diri dari situasi yang sulit. Menurut David, Parkour dapat berguna sebagai self-defense dalam keadaan tidak terduga. Saat martial art bisa disebut sebagai sebuah bentuk latihan untuk fight (bertarung), parkour merupakan suatu bentuk latihan untuk flight (kabur).
Sejak Usia 15 tahun, David Belle pindah ke Lisses (salah satu kota di Perancis). Pada waktu itu, dia bertemu dengan para remaja di sana yang tertarik dengan apa yang dilakukan oleh David. Disinilah cikal bakal dari lahirnya sebuah grup Parkour yang dikenal dengan nama Yamakasi. Bersama teman masa kecilnya, Sebastian Foucan beserta beberapa pemuda lainnya mulai mengembangkan Yamakasi sebagai tim Parkour yang dikenal di Perancis. Namun karena perbedaan prinsip, David dan Sebastian berpisah dan meninggalkan Yamakasi. Sehingga saat film Yamakasi yang dibuat pada tahun 2001 harus tetap berjalan tanpa kehadiran mereka berdua. Saat ini David memulai tur dunia dengan asosiasi yang dia dirikan bersama tim Parkour yang dulu dia dirikan.
Tujuan dan inti dari Parkour itu sendiri adalah mampu menghadapi semua rintangan atau obstacles di sepanjang track yang kita lalui, baik itu di lingkungan alam maupun di lingkungan perkotaan, dengan menggunakan beberapa gerakan yang istimewa dan indah dengan cara mengkombinasikan beberapa gerakan yang mengalir dan control yang penuh. Latihan Parkour bukan ditujukan untuk melawan atau mengalahkan orang lain. Parkour ditujukan untuk membantu orang lain sehingga manusia mempunyai cara berpikir moderasi (sederhana) dan memiliki ketahanan fisik yang lama.
Saat ini Parkour mulai dikenal di seluruh dunia termasuk di Indonesia sendiri. Perlahan-lahan beberapa traceur yang mengerti akan filosofi dan teknik dalam Parkour mulai bertambah. Berkat pembelajaran dari beberapa informasi yang benar mengenai originalitas tentang parkour dari sumber-sumber tepercaya, lambat laun Parkour menjadi sebuah kebutuhan dan disiplin dalam setiap traceur yang memiliki pemahaman dalam jiwanya masing-masing. Pengetahuan seperti inilah yang harus disebarkan ke masyarakat luar dan memberikan edukasi yang benar tentang Parkour mulai dari sejarah dan filosofi yang terkait di dalamnya.
Intinya adalah, Parkour bukan hanya melatih fisik saja. Parkour juga mencerminkan sebuah filosofi moral dengan nilai-nilai tersendiri. Bukan hanya sekedar sebuah olah raga, tapi juga sebuah seni. Dan yang paling penting Parkour adalah sebuah filosofi yang selalu dipakai semua orang setiap hari.

Sumber : id.wikipedia.org
Images : parkourpalembang.webs.com, hiphoprap.bloguest.com

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.